Anak-anak Senang Sekolah
Rabu, 11 Februari 2009 09:57:12 - oleh : admin
Solo, Indonesia, 11 Februari 2008 – Ifah bangun
sebelum subuh. Anak perempuan 12 tahun ini langsung mempersiapkan diri
dan peralatannya untuk ke sekolah. Setiap pagi, murid kelas 6 ini
selalu senang berangkat sekolah. “Saya suka sekali sekolah, apalagi
kalo sedang belajar bahasa inggris, kesukaan saya,” ujarnya.
Ifah adalah salah satu anak dari banyak keluarga
miskin di Indonesia yang seringkali sulit untuk mendapatkan pendidikan
yang bagus.
Ifah adalah anak bungsu dari 5 bersaudara yang tinggal bersama orangtuanya di Solo, Jawa Tengah. Ibunya bekerja sebagai perawat disebuah rumah jompo dan bapaknya bekerja sebagai tukang becak. Kedua orangtuanya sangat mengharapkan agar Ifah dapat memperoleh masa depan yang cerah.
Saya sangat senang bahwa Ifah sangat menyukai belajar dan sekolah. Saya mengharapkan bahwa suatu hari bisa jadi orang,” ujar Sri Aminatun, ibunda Ifah.
Ifah serta banyak anak-anak sepertinya memang memiliki tantangan yang lebih dari anak-anak pada umumnya. Namun mereka memiliki sesuatu yang lebih: mereka bersekolah di SD Plalan 2 yang menerapkan program yang di dukung UNICEF – yaitu program Manajemen Berbasis Sekolah, atau yang lebih dikenal sebagai MBS – dimana proses belajar para murid tidak hanya berkisar tentang membaca, menulis dan matematika.
Kami memulai dengan hanya beberapa sekolah dan kini program MBS ini sudah digunakan oleh lebih dari 1,000 SD di propinsi JaTeng saja. Program ini efektif dan para pendidik mengakui ini,” ujar I Made Sutama, kepala kantor perwakilan UNICEF di Jawa Tengah.
SD Plalan 2 telah menggunakan program MBS sejak tahun 2002 waktu Ifah baru kelas satu. Di sekolah ini, Ifah didorong untuk menggunakan imajinasinya dan mengembangkan kemampuannya untuk mencari solusi.
Sebagai kepala sekolah SD Plalan 2, Bapak Sardjito mengakui bahwa telah kemajuan yang terjadi sejak metode MBS diberlakukan disekolahnya. “Hasilnya bisa dilihat langsung diekspresi muka para murid. Mereka penuh senyum, ketawa dan sangat menikmati matematika – sesuatu yang tidak terjadi waktu saya sekolah dulu,” ujarnya.
“Anak-anak tidak takut terhadap guru dan mereka senang bertanya. Saya sendiri sangat kagum atas betapa semangatnya anak-anak ini belajar,” ujar Bapak Suwarto, guru kelasnya Ifah.
Program ini juga melibatkan para orang tua yang menyumbangkan waktu, tenaga dan uang untuk memperbaiki fasilitas sekolah. Saat ini, bapak Marjono dan Bapak Sunardi tengah bekerja memasang lantai baru untuk perpustakaan sekolah. Mereka mengatakan bahwa mereka senang menyumbangkan tenaga mereka agar anak-anak mereka bisa meraih masa depan yang cerah.
Pengalaman Ifah dan teman-temannya disekolah MBS akan berakhir tahun ini setelah mereka lulus SD. Namun nilai-nilai dasar belajar yang aktif dan menyenangkan ini akan senantiasa menyertai mereka dalam proses menggali ilmu.
Berkat dukungan orang tua, para guru yang mendidik dan sistem yang memadai, Ifah kini memiliki visi yang jauh lebih dewasa daripada umumnya.
“Nanti kalo sudah besar, saya mau membantu orang karena banyak sekali orang yang membutuhkan pertolongan, seperti mereka yang terkena bencana. Karena walau banyak orang yang punya tapi lebih banyak lagi orang yang tidak punya,” ujar Ifah.
Ifah adalah anak bungsu dari 5 bersaudara yang tinggal bersama orangtuanya di Solo, Jawa Tengah. Ibunya bekerja sebagai perawat disebuah rumah jompo dan bapaknya bekerja sebagai tukang becak. Kedua orangtuanya sangat mengharapkan agar Ifah dapat memperoleh masa depan yang cerah.
Saya sangat senang bahwa Ifah sangat menyukai belajar dan sekolah. Saya mengharapkan bahwa suatu hari bisa jadi orang,” ujar Sri Aminatun, ibunda Ifah.
Ifah serta banyak anak-anak sepertinya memang memiliki tantangan yang lebih dari anak-anak pada umumnya. Namun mereka memiliki sesuatu yang lebih: mereka bersekolah di SD Plalan 2 yang menerapkan program yang di dukung UNICEF – yaitu program Manajemen Berbasis Sekolah, atau yang lebih dikenal sebagai MBS – dimana proses belajar para murid tidak hanya berkisar tentang membaca, menulis dan matematika.
Kami memulai dengan hanya beberapa sekolah dan kini program MBS ini sudah digunakan oleh lebih dari 1,000 SD di propinsi JaTeng saja. Program ini efektif dan para pendidik mengakui ini,” ujar I Made Sutama, kepala kantor perwakilan UNICEF di Jawa Tengah.
SD Plalan 2 telah menggunakan program MBS sejak tahun 2002 waktu Ifah baru kelas satu. Di sekolah ini, Ifah didorong untuk menggunakan imajinasinya dan mengembangkan kemampuannya untuk mencari solusi.
Sebagai kepala sekolah SD Plalan 2, Bapak Sardjito mengakui bahwa telah kemajuan yang terjadi sejak metode MBS diberlakukan disekolahnya. “Hasilnya bisa dilihat langsung diekspresi muka para murid. Mereka penuh senyum, ketawa dan sangat menikmati matematika – sesuatu yang tidak terjadi waktu saya sekolah dulu,” ujarnya.
“Anak-anak tidak takut terhadap guru dan mereka senang bertanya. Saya sendiri sangat kagum atas betapa semangatnya anak-anak ini belajar,” ujar Bapak Suwarto, guru kelasnya Ifah.
Program ini juga melibatkan para orang tua yang menyumbangkan waktu, tenaga dan uang untuk memperbaiki fasilitas sekolah. Saat ini, bapak Marjono dan Bapak Sunardi tengah bekerja memasang lantai baru untuk perpustakaan sekolah. Mereka mengatakan bahwa mereka senang menyumbangkan tenaga mereka agar anak-anak mereka bisa meraih masa depan yang cerah.
Pengalaman Ifah dan teman-temannya disekolah MBS akan berakhir tahun ini setelah mereka lulus SD. Namun nilai-nilai dasar belajar yang aktif dan menyenangkan ini akan senantiasa menyertai mereka dalam proses menggali ilmu.
Berkat dukungan orang tua, para guru yang mendidik dan sistem yang memadai, Ifah kini memiliki visi yang jauh lebih dewasa daripada umumnya.
“Nanti kalo sudah besar, saya mau membantu orang karena banyak sekali orang yang membutuhkan pertolongan, seperti mereka yang terkena bencana. Karena walau banyak orang yang punya tapi lebih banyak lagi orang yang tidak punya,” ujar Ifah.
Sumber : nyata
Visitors :29004 Org
Hits : 164916 hits
Month : 798 Users
