Mengembangkan Kreativitas Anak

Rabu, 7 April 2010 11:23:05 - oleh : admin

Cara guru mengajar dan mendidik siswanya dengan mengabaikan perkembangan imajinasi dan kreativitas anak justru telah membuat "gembok" dalam otak belahan kanan anak-anak. Gembok itu harus segera dibuka sehingga perkembangan otak kanan anak Indonesia bisa seimbang dengan otak kirinya. Cara untuk membuka gembok itu antara lain dengan memberikan latihan kepada anak lewat kegiatan pengamatan, interpretasi, ramalan, dan eksperimen atau penerapan teori.
Psikolog Prof Dr Conny Semiawan menyatakan itu dalam seminar "Kiat Menggali Potensi Anak: Kompromi Antara Ambisi Orangtua Vs Kapasitas Anak" yang diadakan Persatuan Orangtua Murid dan Guru TK Lab School Jakarta, Sabtu (2/10). Melengkapi uraian mantan Rektor IKIP Jakarta itu, panitia menampilkan pula psikolog Elly Risman, pemilik Yayasan Kita dan Buah Hati Jakarta.
Conny lalu memberi contoh sikap guru yang mengunci kreativitas dan imajinasi anak. Mereka memberi soal yang punya lebih dari satu jawaban, tetapi ketika siswa memberi jawaban tak sama dengan keinginan guru, jawaban itu dianggap salah. Padahal, fungsi belahan otak kanan adalah berpikir divergen yang menuntut lebih dari satu jawaban benar terhadap masalah multidimensial. Sementara belahan otak kiri lebih banyak merespons hal bersifat linear, logis dan teratur.
"Cucu saya mendapat pertanyaan: Ayah bekerja di kantor, ibu ? hm-hm-hm. Dijawabnya, ibu juga bekerja di kantor, tetapi gurunya menyatakan jawaban itu salah. Menurut gurunya, ibu memasak di rumah. Cucu saya bilang, ibu saya tidak memasak, karena itu mereka rantangan...," ujar Conny membuat peserta seminar yang terdiri atas para orangtua dan guru anggota POMG tertawa.
Pola mengajar dan mendidik seperti itu harus berubah dengan lebih banyak mengajak anak mengamati untuk membuat perbandingan, interpretasi untuk menemukan maksud dan hubungannya, serta menyarankan kemungkinan alternatif penemuan jawaban serta kesimpulan. Kegiatan lain, ramalan untuk melatih penalaran dari pengamatan dan menyimpulan dari pengamatan dan interpretasi, sedangkan eksperimen untuk melatih perencanaan pengamatan dari penerapan teori sampai menguraikan kesimpulannya. Diingatkan pula agar orangtua tak menjejali anak dengan bermacam les atau memaksakan masuk kelas akselerasi sehingga mereka kehilangan masa bermainnya.

Sumber : Kompa

kirim ke teman | versi cetak

Berita "Berita Terkini" Lainnya